*Jukung, Perahu Tradisional Sungai Barito yang Kini Mulai Langka di Desa Sungai Seluang Pasar*
- Apr 15, 2026
- Arifin nor
_Sungai Seluang Pasar, 15 April 2026_ – Di tengah derasnya arus modernisasi, ada satu pemandangan yang kini semakin jarang terlihat di perairan Desa Sungai Seluang Pasar, Kec. Belawang, Kab. Barito Kuala: sebuah *jukung* melaju pelan membelah Sungai Barito.
Jukung, nama lain dari perahu kayu tradisional khas Kalimantan Selatan, dulunya menjadi transportasi utama warga desa. Bentuknya ramping, panjang, dan biasanya digerakkan dengan dayung atau mesin ketinting kecil. Selain untuk pergi ke pasar, jukung juga jadi andalan warga untuk berkebun ke seberang sungai atau mencari ikan.
“Saya dulu ke sekolah naik jukung. Kalau sekarang anak-anak sudah banyak pakai sepeda motor atau lewat darat,” ujar Amat (58), salah satu warga yang masih setia menggunakan jukung. “Jukung itu ringan, nggak berisik, dan enak buat di sungai kecil,” tambahnya sambil menunjuk perahu kayunya.
*Tergeser Zaman*
Warga menuturkan, jukung mulai ditinggalkan karena beberapa alasan. Pertama, butuh tenaga lebih untuk mendayung dibanding perahu bermesin. Kedua, kayu ulin untuk membuat jukung makin mahal dan susah dicari. Ketiga, jalan darat ke desa tetangga sudah banyak yang bagus, sehingga warga lebih memilih kendaraan roda dua.
“Dulu tiap rumah pasti punya jukung. Sekarang bisa dihitung jari. Paling yang punya orang tua-tua saja,” kata Asun, tokoh masyarakat setempat.
Meski begitu, sebagian warga berharap jukung tidak punah. Selain jadi identitas budaya sungai masyarakat Banjar, jukung juga ramah lingkungan karena tidak memakai BBM dan tidak menimbulkan gelombang besar yang mengikis tepi sungai.
*Harapan untuk Dilestarikan*
Warga berharap ada perhatian dari berbagai pihak agar *upaya pelestarian jukung* terus digalakkan. Tujuannya supaya generasi muda masih kenal dan bangga dengan transportasi warisan nenek moyang ini, sehingga tidak hilang ditelan zaman.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Sayang kalau jukung cuma tinggal cerita,” tutup Amat.